Kenapa Daya Konsumsi Lemah ?

B-CHANNEL, BOGOR– Lemahnya daya konsumsi masyarakat saat ini menjadi perbincangan masyarakat, pelaku usaha dan pemerintah. Hampir sepanjang tahun 2017 daya beli atau daya konsumsi masyarakat mengalami penurunan yang signifikan.

Menurut survei Nielsen yang diliris awal November lalu hampir semua produk  mengalami penurunan penjualan. Untuk kinerja industri ritail menunjukkan pertumbuhan penjualan sepanjang lebaran tahun ini dibanding lebaran tahun lalu (year on year/yoy) hanya mencapai 5 persen. Pertumbuhan tersebut paling rendah dalam lima tahun terakhir.

Padahal, pada momentum Lebaran 2012, pertumbuhan penjualan ritel sempat tumbuh mencapai 38,7 persen. Penurunan lainnya terjadi pada industri barang konsumsi kemasan (Fast Moving Consumer Good/FMCG) sepanjang tahun ini dan hanya mencapai pertumbuhan 2,7 persen.

Padahal rata-rata pertumbuhan industri tersebut mencapai 11 persen dalam lima tahun terakhir. Selain itu  konsumsi masyarakat pada mie instan, susu, kopi, dan produk makanan lainnya juga mengalami penurunan. Penjualan mie instan hingga September secara volume tercatat turun 4,4 persen, susu turun 0,2 persen, dan kopi turun 1,5 persen.

Menurut Nielsen penurunan daya beli masyarakat ini terjadi pada kelas menengah ke bawah. Dampak melemahnya daya beli masyarakat berimbas tutupnya ritel modern seperti gerai Seven Eleven, tiga gerai Lotus, Matahari Department Store, Debenhams.
Pengusaha Retail Merugi
Melemahnya daya konsumsi masyarakat diakui Presiden Direktur PT. Lotte Shopping Joseph Buntaran.

Menurutnya penurunan daya konsumsi masyarakat sangat dirasakan sehingga pendapatan yang didapat perusahaannya mengalami penurunan. Hampir semua perusahaan Retail mengalami penurunan pendapatan. Untuk retail mini market penurunan  pendapatan mencapai 50 persen  dan hal itu sama dialami dengan hipermarket.

Kondisi seperti ini sudah dirasakan sepanjang tahun 2017, bahkan saat hari raya idul Fitri yang biasanya income cukup tinggi namun kenyataannya tidak sesuai ekspektasi. Kondisi tersebut membuat dirinya putus asa dan mencari penyebabnya. Joseph menceritakan untuk memastikan benar atau tidaknya realita daya konsumsi lemah, dirinya mendapatkan laporan dari salah satu lembaga survei. Lembaga survei tersebut  melakukan survei langsung by scanning ke rumah tangga.

Survei dilakukan dengan melihat tiga lokasi yang ada di rumah diantaranya kamar mandi, dapur dan meja makan. Hasil survei by scanning tersebut cukup menggejutkannya karena ada lemari es yang tidak ada isinya bahkan aliran listriknya dimatikan, untuk di meja makan tidak terdapat saos, kecap atau bumbu lainnya , sedangkan untuk di kamar mandi tidak ditemukan sampo – sampai dalam bentuk botol namun yang ada sampo satu set.

Pemerintah Klaim Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Sangat Baik
Berbeda dengan pemerintah, meski daya konsumsi masyarakat lemah, namun pemerintah mengklaim bahwa pertumbuhan ekonomi makro Indonesia sangat baik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang dirilis pada November lalu, nilai neraca perdagangan Indonesia mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya. Untuk bulan oktober ataupun selama tahun 2017 perekonomian Indonesia mengalami surplus sehingga sangat positif bagi pertumbuhan.

Dari data BPS Oktober 2017 nilai ekspor Indonesia sebesar USS 15,09 naik 3,62 persen dari bulan September 2017. Sedangkan impor mencapai USS 14,19 miliar pada oktober 2017, sehingga neraca perdagangan pada Oktober 2017 mengalami surplus sebesar USS 0,90 miliar.

Tidak hanya bulan oktober neraca perdagangan Indonesia selama Januari sampai Oktober mengalami surplus juga sebesar USS 11,78 miliar dimana untuk nilai ekspor selama Januari-Oktober 2017 sebesar USS 138, 46 Miliar sedangkan nilai impor Januari-Oktober 2017 mencapai USS 126,68 miliar.

Indikasi perekonomian naik bisa dilihat dari upah rill harian buruh tani dan bangunan. Data BPS upah rill buruh tani dan bangunan dari bulan September ke Oktober 2017 mengalami kenaikan 0,04 persen. Untuk upah rill buruh tani dari Rp. 37.711 menjadi Rp. 37.860 perhari pada bulan Oktober, sedankan upah rill buruh bangunan dari Rp. 64.867 menjadi Rp. 64.894 perhari pada Oktober.

Perubahan upah rill menggambarkan perubahan daya beli dan pendapatan yang diterima buruh. Semakin tinggi upah rill maka semakin tinggi daya beli.
Sedangkan Sumber Bank Indonesia, nilai Investasi mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk Investasi triwulan III 2017 Rp. 176,7 T meningkat 3,4 % dari triwulan II 2017 Rp. 170,9 T atau meningkat 13,7 % dari triwulan III tahun 2016. Investasi ini merupakan realisasi langsung selama 3 bulan Juli – september.

Apa Penyebab Daya Beli Menurun ?
Meski data BPS dan Bank Indonesia menunjukkan perbaikan ekonomi cukup baik namun kenyataannya daya konsumsi masyarakat masih  rendah. Ada beberapa penyebab daya konsumsi rendah,  jika diakumulasikan maka pengaruhnya bisa cukup tinggi  diantaranya,  pertama data dari Bank Indonesia menunjukkan tingginya masyarakat memilih untuk menabungkan uangnya ke bank di tahun 2017 cukup tinggi dibanding tahun 2016, terutama penabung dengan jumlah diatas 2 miliar.

Kedua keterbatasan lapangan kerja yang ada di Indonesia, ketiga kenaikan harga sembako, tarif listrik, tarif tol, tiket kereta, harga BBM, biaya pengurusan STNK dan BPKB dan pajak kendaraannya, keempat adanya perubahan gaya hidup di mana orang semakin banyak memilih bepergian untuk berwisata dibandingkan makan di mal.

Kelima perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih mendatangi kafe kafe hanya sekedar bertemu dengan teman atau melakukan aktivitas tugas sekolah, kuliah atau kerja. Keenam, meski angkanya hanya satu persen keberadaan e-commerce tetap menjadi penyebab menurunnya pendapatan perusahaan retail. Ketujuh, pembangunan infrastruktur mayoritas dilakukan perusahaan besar seperti BUMN sehingga uang yang berputar hanya di perusahaan tersebut ditambah  penyerapan tenaga kerja berkurang karena  saat ini teknologi konstruksi sudah canggih sehingga tidak terlalu dibutuhkan banyak tenaga kerja.

Kedelapan adanya pengawasan ketat dari penegak hukum seperti KPK yang menyasar ke pengawasan proyek  besar sehingga meminimalisir terjadinya KKN, kesembilan, keberadaan Satuan Petugas Saber Pungutan Liar (Saber Pungli) yang hadir di setiap pelosok di Indonesia bisa mengurangi uang untuk belanja yang beredar dimasyarakat. Berdasarkan data sampai November petugas Sabet Pungli berhasil melakukan 1.316 operasi tangkap tangan (OTT) dengan jumlah barang bukti hampir 400 miliar.

Wilayah operasi petugas saber pungli bisa menangkap pungli dari Rp. 10 ribu hingga ratusan miliar. Sehingga sasaran mulai dari masyarakat bawah, menengah dan atas. Kemungkinan adanya uang tambahan untuk belanja dari sisi ini cukup beralasan, karena gaji yang diterima hanya cukup untuk kebutuhan sekolah, hutang dan lainnya.
Meski belum ada survei yang menjadikan kesembilan faktor tersebut menjadi objek penelitian, minimal sebagai pandangan penulis ke sembilan faktor tersebut jika diakumulasikan tidak tertutup kemungkinan menjadi penyebab utama daya konsumsi rendah masyarakat.

 

Penulis : Endang Gunawan/ Mahasiswa Pascaserjana Sekolah Bisnis Insititut Pertanian Bogor (IPB)-

 

The post Kenapa Daya Konsumsi Lemah ? appeared first on BOGORCHANNEL.



from BOGORCHANNEL http://ift.tt/2jtXgi2
via IFTTT

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Berita Bogor Terbaru